Gula Stevia

Sejarah Daun Stevia rebaudiana sebagai Pemanis Alami

Stevia sering dianggap pemanis “kekinian”, padahal kisahnya sudah berlangsung berabad-abad. Sejarah daun Stevia rebaudiana sebagai pemanis alami melintasi hutan Amerika Selatan, laboratorium Eropa, industri makanan Jepang, hingga meja keputusan lembaga keamanan pangan dunia. Berikut perjalanan lengkapnya.

Jawaban Singkat

Stevia rebaudiana berasal dari wilayah Paraguay dan Brasil, tempat suku Guarani sudah lama memakai daunnya yang mereka sebut ka’a he’ê (daun manis) untuk memaniskan minuman. Ilmuwan Moisés Bertoni mendeskripsikannya secara ilmiah sekitar tahun 1899, stevioside diisolasi pada 1931, Jepang memopulerkan pemanis stevia sejak 1970-an, dan steviol glikosida kemudian disetujui lembaga internasional pada 2008–2011.

Asal-Usul: Daun Manis Suku Guarani

Tanaman stevia tumbuh liar di daerah perbatasan Paraguay dan Brasil. Suku Guarani, penduduk asli wilayah itu, mengenalnya sebagai ka’a he’ê yang berarti “daun manis” atau “tanaman manis”. Mereka memakai daunnya untuk memaniskan minuman tradisional seperti yerba mate dan ramuan herbal. Pengetahuan ini diwariskan turun-temurun jauh sebelum dikenal dunia luar.

Penemuan Ilmiah: Bertoni dan Rebaudi

Pada akhir abad ke-19, ahli botani Swiss-Paraguay Moisés Santiago Bertoni mendengar tentang daun manis ini dari masyarakat lokal. Ia mempelajari dan mendeskripsikannya secara ilmiah sekitar tahun 1899. Nama spesies rebaudiana diberikan untuk menghormati Ovidio Rebaudi, seorang ahli kimia Paraguay yang menganalisis kandungan manis daun tersebut. Sejak itu, tanaman ini dikenal sebagai Stevia rebaudiana Bertoni.

1931: Stevioside Diisolasi

Pada 1931, dua ahli kimia Prancis, Bridel dan Lavielle, berhasil mengisolasi senyawa manis dari daun stevia yang kemudian dinamai stevioside. Penemuan ini membuka jalan untuk memahami mengapa daun stevia jauh lebih manis dari gula. Penelitian berikutnya menemukan senyawa lain, termasuk rebaudioside A, yang lebih manis dan rasanya lebih bersih. Kelompok senyawa ini kini disebut steviol glikosida.

Masa Perang dan Minat Awal

Pada masa kelangkaan gula di sekitar Perang Dunia II, stevia sempat dilirik sebagai alternatif pemanis di beberapa negara, termasuk upaya budidaya percobaan. Namun penggunaannya belum meluas secara komersial.

1970-an: Jepang Mempopulerkan Stevia

Titik balik terjadi di Jepang. Pada akhir 1960-an, beberapa pemanis buatan dibatasi penggunaannya di sana, dan industri makanan Jepang mencari alternatif. Ekstrak stevia mulai dikomersialkan di Jepang pada awal 1970-an dan banyak dipakai dalam berbagai produk, dari minuman hingga makanan olahan. Jepang menjadi salah satu negara pertama yang memakai stevia secara luas.

Perkembangan Budidaya di Asia

Seiring naiknya permintaan, budidaya stevia menyebar ke berbagai negara Asia. Tiongkok kemudian menjadi salah satu produsen terbesar daun dan ekstrak stevia. Di Indonesia, stevia juga dibudidayakan, terutama di dataran sedang hingga tinggi yang sejuk. Cara menanamnya di rumah bisa Anda baca di cara menanam stevia di pot.

2008–2011: Pengakuan Internasional

Tahun Peristiwa
±1899 Bertoni mendeskripsikan tanaman secara ilmiah
1931 Stevioside diisolasi oleh ahli kimia Prancis
1970-an Ekstrak stevia dikomersialkan di Jepang
2008 JECFA (FAO/WHO) menetapkan ADI 4 mg steviol/kg BB; FDA tidak keberatan atas status GRAS steviol glikosida kemurnian tinggi
2010 EFSA menilai steviol glikosida aman dengan ADI 4 mg/kg BB
2011 Uni Eropa menyetujui steviol glikosida sebagai E 960

Sebelum periode ini, status stevia di beberapa negara Barat masih terbatas karena data keamanan belum lengkap. Setelah evaluasi menyeluruh terhadap steviol glikosida murni, lembaga-lembaga tersebut menyatakan aman dalam batas asupan harian. Ringkasannya ada di fakta keamanan stevia.

Era Modern: Reb M dan Rasa yang Makin Mirip Gula

Setelah disetujui luas, industri berlomba memperbaiki rasa stevia. Fokusnya pada rebaudioside D dan M yang rasanya paling mirip gula namun kadarnya sangat kecil di daun. Kini senyawa tersebut juga diproduksi melalui proses enzimatis dan fermentasi. Di sisi lain, pemuliaan tanaman menghasilkan varietas stevia dengan kandungan Reb A lebih tinggi.

Stevia dan Tren Mengurangi Gula

Meningkatnya kesadaran akan dampak konsumsi gula berlebih membuat stevia semakin populer sebagai pemanis nol kalori dari tanaman. WHO menganjurkan pembatasan gula bebas, dan pada 2023 juga mengingatkan agar pemanis non-gula tidak dijadikan alat utama menurunkan berat badan. Stevia kini diposisikan sebagai alat bantu mengurangi gula, bukan pengganti pola makan sehat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Stevia berasal dari negara mana?

Dari wilayah Paraguay dan Brasil di Amerika Selatan.

Siapa yang pertama kali menemukan stevia?

Masyarakat Guarani sudah lama memakainya. Secara ilmiah, tanaman ini dideskripsikan oleh Moisés Bertoni sekitar 1899.

Kenapa namanya rebaudiana?

Untuk menghormati ahli kimia Ovidio Rebaudi yang meneliti kandungan manisnya.

Negara mana yang pertama memakai stevia secara komersial?

Jepang, sejak awal 1970-an.

Apakah stevia bisa tumbuh di Indonesia?

Bisa, terutama di daerah yang sejuk dengan sinar matahari cukup.

Bagaimana suku Guarani memakai daun stevia?

Daun dipakai segar atau dikeringkan, lalu dicampurkan ke minuman herbal dan yerba mate untuk mengurangi rasa pahit dan memberi rasa manis. Cara sederhana ini mirip dengan teh daun stevia yang masih dibuat orang hingga sekarang.

Mengapa stevia butuh waktu lama untuk disetujui di negara Barat?

Lembaga keamanan pangan memerlukan data lengkap tentang komposisi, kemurnian, metabolisme, dan uji toksikologi jangka panjang. Data untuk steviol glikosida murni baru dianggap memadai pada akhir 2000-an. Setelah itu, persetujuan diberikan untuk ekstrak yang dimurnikan, bukan untuk daun utuh.

Apakah stevia yang dijual sekarang sama dengan daun yang dipakai suku Guarani?

Sumbernya sama, tetapi produk modern umumnya berupa steviol glikosida yang dimurnikan agar rasanya lebih bersih dan kadar manisnya konsisten. Prosesnya dijelaskan di proses pembuatan stevia cair.

Bagaimana masa depan stevia?

Penelitian terus berfokus pada rasa yang semakin mirip gula, budidaya yang lebih efisien, dan pemakaian di lebih banyak jenis makanan dan minuman. Seiring tren mengurangi gula, stevia diperkirakan tetap menjadi salah satu pemanis nol kalori yang paling banyak dipakai.

Apakah stevia pernah dilarang?

Di beberapa negara, sebelum data keamanan dinilai lengkap, stevia belum diizinkan sebagai bahan tambahan pangan. Setelah evaluasi lembaga internasional, steviol glikosida murni kini diizinkan di banyak negara. Isu “stevia dilarang WHO” yang beredar belakangan adalah salah paham; penjelasannya ada di artikel fakta keamanan stevia.

Kesimpulan

Dari “daun manis” suku Guarani, deskripsi ilmiah Bertoni, isolasi stevioside pada 1931, komersialisasi di Jepang, hingga disetujui JECFA, FDA, EFSA, dan Uni Eropa, stevia telah menempuh perjalanan panjang menjadi pemanis nol kalori yang dikenal dunia. Kini Anda bisa menikmatinya dalam bentuk tetes praktis. Dasar-dasarnya ada di gula stevia adalah dan stevia terbuat dari apa.

Kini manisnya daun stevia bisa dinikmati dalam bentuk tetes praktis. Stevia cair Gula Stevia 15 ml, Rp59.000 per botol.

Pesan via WhatsApp Lihat pilihan paket

Sumber Rujukan

  1. EFSA (2010). EFSA evaluates the safety of steviol glycosides (ADI 4 mg/kg berat badan/hari)
  2. Regulasi Komisi Eropa (EU) No 1131/2011 tentang steviol glikosida (E 960)
  3. NC State Extension. Stevia rebaudiana (Sweet Honey Leaf)
Exit mobile version